cerita mama · motherhood · parenting

Sleep Training Shabira (1)

Di usianya yang ke 16 bulan ini, saya akhirnya memutuskan untuk melakukan sleep training karena berbagai pertimbangan. Salah satunya karena sudah siap dan tega lahir batin, salah duanya karena menurut saya penting buat shabira tidak terlalu bergantung pada susu ibunya ketika malam. Nah menurunnya frekuensi menyusui ini, akan lari kepada meningkatnya nafsu makan dia (secara teori begitu), selain itu dia bisa deep sleep, tidur tanpa tergantung bangun beberapa kali untuk menyusu kepada saya.

Setelah saya evaluasi, selama ini dia hanya menuruti keinginannya saja, menyusu kala malam seakan bentuk kepuasan. Bukan lagi kebutuhan, karena dia jatuhnya ‘ngempeng’. Sebenarnya, hal ini sudah disampaikan oleh dokter spesialis anak (dsa)-nya shabira pada waktu 10 bulan. Tapi pada saat itu, beliau menyarankan saya untuk memerbaiki pola makan. Baru setelah pola makan baik dan saya siap, saya diminta untuk memelajari sleep training agar anak bisa sleep through the night (tidur tanpa kebangun bangun waktu malam).

Setelah saya membaca berbagai macam literatur tentang sleep training, sebenarnya kalau di luar negeri sleep training ini biasa dilakukan bahkan sejak anak usia 6 bulan. Nah sleep training sendiri yang sering dijalankan ini ada dua metode, sebut aja yang pertama poprock yang satunya jazz. hahahaha gak ding. Yang pertama adalah cry it outyang kedua adalah no tears method.

Saya jelaskan perbedaannya sedikit ya, kalau yang cry it out ini, bayi diletakkan di crib dalam keadaan masih melek, jadi belum merem. Kita orangtuanya ninggalin aja gitu dia di crib sendirian. Tujuannya supaya dia terbiasa tidur tanpa kita orangtuanya. Jadi kalau dia kebangun pas malam, dia akan berusaha sendiri untuk tidur tanpa harus ada kita yang nge-pukpuk. Orangtua bisa nengok bayinya di crib ini beberapa kali (untuk memastikan posisi dan lain-lain) semakin hari, interval nengoknya semakin jarang. Karena judulnya cry it out, bayi kita bakal nangis-nangis di awal. Tega-tegaan lah.

Kalau metode no tearsini metode : diem diem wae. wkwkwk. Jadi kita mengkondisikan tidurnya dia, menjadwalkan rutin plus treatment sebelum tidur. Memastikan ruang tidur nyaman, hening, beberapa bayi suka gelap ya digelapin ruangannya, disetelin lagu-lagu ninabobo, menemani dia sebagai co-sleeping, bisa bacain dongeng dulu, kemudian dipuk-puk sampai tidur. Atau tetep nemenin di samping crib, kalau anak ditaruh di crib, nah makin lama makin menjauh-menjauh-menjauuh, dan endingnya bisa ditinggal tidur sendiri. Nggak langsung dibiarkan seperti metode cry it out.

Kalau saya pribadi, menjalankan keduanya super susah. Pertama karena dia masih bener-bener ketergantungan sama ‘nyusu’ sebelum tidur kalau pake metode no tears bakal susah karena endingnya dia minta nyusu, kedua saya nggak bisa meninggalkan dia sendirian di satu ruang karena kamar kami cuma satu, plus kami nggak punya crib hahahahaha.  Dua kamar sih sebenarnya, tapi yang satu sudah jadi multifungsi ruang, ya buat laundryan, buat setrika, buat ini itu. Hahaha #malahcurhat.

Jadi saya menerapkan mix method #halah. Ya cry it out, ya no tears (disini ngambil teori tetep jadi co-sleepingnya dia). Atau ini adalah Apik Method? (apasihhh hahaha). Sebelumnya, saya mau beri beberapa catatan kalau mau menjalankan sleep training, biar memermudah gitu… Continue reading “Sleep Training Shabira (1)”

Advertisements
cerita mama · motherhood

Postpartum

Mungkin fase ini patut diabadikan dalam tulisan. Hehehe

Sebelumnya, saya sudah baca-baca soal babyblues dan PPD. Dan betapa dua hal itu teramat dekat pada tiap ibu yang habis melahirkan. Alhamdulillah saya hanya merasakan naik-turun mood yang seperti rollercoaster dan memerangi diri saya sendiri yang kaya monster. Nggak sampai babyblues atau PPD. Naudzubillah… semoga teman-teman disini juga nggak ada yang kena yaaa.

Mungkin kejadiannya akan berbeda kalau saya nggak banyak baca dan mendapat support yang begitu besar dari keluarga saya. Dan hal-hal semacam ini, nggak mungkin saya bagi ke teman-teman saya…karena saya pikir ini akan begitu remeh di mata mereka. Yang saya punya ya keluarga saya. Tapi keluarga juga ujungnya saya memilah-milah. Karena kadang ketidakcocokan pola asuh anak juga yang memicu babyblues. Ujungnya yang saya tumpahi berbagai resah gelisah ya suami saya. Yang saya seret dalam arus keruwetan diri ini ya suami saya. Alhamdulillah beliau begitu supportif.

Jadi kalau ada para suami yang membaca ini dan istrinya mau melahirkan, please…bersamai dia. Benar-benar membersamai dalam arti sesungguhnya. Bukan ada tapi hadirnya tiada. Terutama mendengar cerita-ceritanya. Bagus kalau setiap hari memeluknya. Syukur-syukur rajin membelikan makanan kesukaannya. Hahaha. Karena meskipun itu remehhhh sekali di mata kalian, akan sangat berarti untuk istri kalian.

Saya nggak menyangka kalau mood saya bisa se-nge-swing itu. Sehari saya bisa begitu senang sekaligus begitu sedih. Saya bisa merasa begitu dicintai sekaligus begitu tidak dimengerti. Saua bisa merasa begitu beruntung sekaligus begitu merana.

Kadang luka jahitan, kelelahan, dan jam tidur yang masih adaptasi membuat semuanya mendukung mood yang acak-acakan.

Belum bisaa sholat juga. Kadang yang aku pengen cuma sholat abis gitu curhat sama Allah sambil nangis sampai ketiduran di sajadah. Tapi nggak mungkin…ada anak bayi yang dunianya adalah aku, ibunya. Nggak mungkin ditinggal-tinggal.

Pada saat itu, yang begitu memicu kesedihan dari diri saya adalah diri saya sendiri. Ketakutan-ketakutan yang saya punya. Setiap ibu bakal punya medan juangnya sendiri karena cerita pemicunya akan berbeda satu sama lain. Kadang bisa jadi karena mertua atau orangtua yang terlalu memojokkan ibu baru, ada juga karena stigma masyarakat sekitar, ada juga karena suami, ekonomi, ASI seret, anak nangis terus nggak berhenti, rumah berantakan, dan lain-lain.

mau garis satu, atau garis dua, kehamilan itu...sepenuhnya kuasa Allah

Continue reading “Postpartum”

cerita mama · jurnal kehamilan · motherhood · Uncategorized

Program Hamil

Sebelumnya nggak pernah bahas ini karena aku merasa perjuanganku sebenarnya belum ada apa-apanya dibanding teman-teman yang sedang berjuang di luar sana. Doa terbaik untuk teman-teman yang sedang berikhtiar. Semoga Allah berikan kelapangan hati dan penerimaan yang luas akan segala skenarioNya 🙂

Mulai dari mana ya? Mungkin dari aku yang sempat kosong ‘belum isi’ selama enam bulan pertama menikah…

Awalnya sih santai, yang bikin nggak santai justru keluarga, kerabat, teman-teman, dan pertanyaan yang silih berganti datang. Aku sampai ngebayangin pas itu, gimana rasanya nanti lebaran. Berasa nggak pengen kemana-mana takut ditanyain udah isi apa belom waktu keluar-keluar. Separno itu 😦

Sekali lagi, kadang hati kita cukup lapang. Yang mempersempit adalah celoteh orang-orang di sekitar. huhuhu

Akhir 2016 aku memutuskan ke dokter kandungan, bukan karena pengen promil, tapi lebih ke drama ketika datang bulan mulai ada lagi. Disminorhea hebat yang sampai bikin keringat dingin dan pingsan. Yang beneran pingsan…padahal itu aku lagi diajakin pacaran ke Lembang sama suami. Pas di spot bagusnya, baru juga duduk, belum pesen menu apa-apa. Eh pingsan duluan wkwk. Kata suami, kami kesana cuma numpang minum teh anget 😂

Lalu waktu aku ke salah satu dokter kandungan, pyarrr, pecahlah pikiranku kemana-mana haha. Karena pada waktu itu, aku kembali divonis endometriosis. heu. Sebelumnya sudah pernah dibilang demikian, tapi cari alternatif dokter lain dan beliau bilang nggak ada masalah.

Aku diminta untuk terapi hormon selama tiga bulan. Resikonya, aku bisa aja sebulan itu nggak datang bulan sama sekali (tambah bingung kan ngitung masa suburnya). Terus harga obatnya Rp 500.000, dikali 3 sudah Rp 1.500.000. Wow. Baiklah, kami belum mengiyakan karena aku semakin ragu sama dokternya wkwk, habisnyaaa kaya gampang banget gitu ngevonis ini itu :””)

Kamipun cuma meminta copy resep. Lalu minggu berikutnya aku mencoba dokter kandungan yang lain, hasil dari rekomendasi teman yang merupakan dokter umum.

Ternyata beliau bilang sama sekali nggak ada apa-apa dengan rahimku. Semuanya alhamdulillah baik. Mungkin aku cuma kebawa beban pikiran aja.

“Stress aja ini kali mbak… biasa kan penganten baru agak-agak stress gimana gitu.” Kata beliau.

Dalam hati ingin ku bersorak, “TAU AJA SIH PAK DOKTER!” wkkwkwkwkwk

Mumpung di dokter kandungan ya kan, sekalian deh aku nanya kalau buat promil gimana. Continue reading “Program Hamil”

cerita mama · motherhood

Catatan Benerin MP-ASI Shabira

Beberapa waktu lalu, saya pergi ke DSA. Mau curhat keresahan ini sama DSA-nya Shabira, dr Hastuti di PKU Kotagede. Shabira udah tiga bulanan BBnya stuck di angka 9,1an. Naik seiprit-iprit aja, paling pol 100gram. Adakah yang salah dalam pemberian MP-ASIku? sebenarnya BBnya masih di garis hijau, normal. Tapi yang jadi masalah adalah kenapa kok BBnya istiqomah? Padahal grafiknya harusnya naik. Nah lho…

Saya ditanyain macem-macem, Shabira juga diperiksa ini itu. Alhamdulillah semuanya normal. Ada benjolan di belakang telinga kanan dan kiri, dan itu normal karena nggak sampai 1cm diameternya. Cek HB alhamdulillah juga normal (tapi aku lupa berapa HBnya Shabira wkwk, fokusku cuma dokter bilang normal, ga kenapa-kenapa). Tinggal cek urin aja sebenernya, buat memastikan ada Infeksi Saluran Kencing (ISK) atau enggak. Karena kan susah juga mipisin anak di Rumah Sakit, hahaha.

Semua baik.

“Oke bu, kita evaluasi bareng-bareng ya..” Kata dr. Hastuti.

DUUUHHH Deg-degan rasanya pas dibilang gitu. Alhamdulillaaah dr. Hastuti nggak ngejudge apa-apa, nggak nyalahin Mama belajaran ini, nggak ngasi resep aneh-aneh. Terharuuuwww.

Sebenarnya ya, kita tuh kadang ngerti teorinya gimana, soal pemberian makanan adekuat, takaran penyajian, kapan dan durasinya. Tapi masih aja banyak excuse, tapi yaa namanya juga aji nur afifah, alesane luweh ombo timbange alas. wkwkwk

Lalu dr. Hastuti memulai pertanyaan ini dengan berapa kali Shabira makan? Oke sudah bener 3x.

“Selingannya apa?”

“Buah dok, kadang juga biskuit bayi, kadang nyemilin nasi.” jawabku kemudian.

Daaaan beliau mengernyit saudarah-saudarahhhhh. Hati ini makin berdebarrr. Tapi pertanyaan tetap dilanjutkan.

“Kalau minum ASInya bun?” tanya beliau.

Ennnggg…saya mulai berhitung dalam hati, “Enam dok!”

Raut muka dr. Hastuti berubah. UWAAA! Makin deg-deg serrr.

“Takaran makannya segimana Bun? Semangkuk kecil habis nggak?” Tanya beliau.

“Nah itu dok. Dia makannya sedikit. Kadang cuma 5 suap. Apa sebaiknya saya turun tekstur ya dok? Karena dia sudah makan nasi, bukan bubur atau nasi tim.” Mulai kederrrr. Panik! Hahaha

“Hmm, seharusnya semangkuk kecil sih bun sekali makan. Tapi nggak papa, kita coba telusuri ya kira-kira apa penyebabnya adek makannya nggak habis semangkuk kecil.” kata dr. Hastuti menenangkan.

oke…kembali lagi ke kursi panas wkwkwk

“Bunda, adek ASInya masih banyak ya kalau saya lihat-lihat. Padahal kebutuhan ASInya sudah berkurang, bunda pernah pumping? Dapet berapa kira-kira? Atau perkasih ASI, bunda ada takarannya?” Tanya dr. Hastuti yang membuat diri ini auto geleng-geleng kepala.

“Waduh, enggak pernah dok. Selama ini saya direct terus. Kalau ditanya dia berapa cc minum ASI perhari, saya juga nggak bisa ngitungnya…” hiks.

“Kebutuhan ASI adek harusnya 300cc saja perhari bun, kalau sejauh ini minum ASInya gimana? Lama nggak? Minum ASI kalau bisa nggak lebih dari 30 menit. Karena lebih dari itu masuknya ngempeng, kalau ngempeng–yang banyak masuk itu angin. Kalau angin…adek kembung, perutnya nggak enak, nafsu makannya bisa jadi turun.” lanjut dr. Hastuti.

Beliau mencoret-coret sesuatu di kertas HVS.

Jadi ini PR pertama kita ya, kurangi ASInya. Kalau minta? Alihkan. Kalau sudah setahun yaa paling enggak 3-4 kali aja minum ASInya. Bunda ada 1 bulan untuk membiasakan adek nggak terlalu banyak nenennya. Karena itu tadi, di usia adek, kebutuhan ASInya hanya 30%.”

Aku manggut-manggut, “baik dok.”

“Sekarang kita bicara soal makannya adek. Kalau Bunda kasih adek MPASI, di piringnya ada apa saja?” Continue reading “Catatan Benerin MP-ASI Shabira”

motherhood · Uncategorized

MP-ASI Hack – Sop Ceker

berisi kumpulan resep makanan kesukaan Shabira 😀

yang pertama adalah Sop Ceker. Hahaha. Anakku suka ceker, mirip aku ya. Karena bapaknya mah denger kata ceker ayam udah geli duluan. Yeeee belum rasain gimana enaknya nyesepin tulang ceker. wkwkwk

Membuat ini, caranya cukup sederhana.

  1. Bahan : Ceker ayam 4 pcs, wortel 1pcs (kecil saja), tofu (opsional), kentang (opsional), jagung serut (opsional-tapi direkomendasikan! hehehe)
  2. Bumbu : Bawang putih, merica, seledri, daun bawang, bawang merah goreng
  3. Cara membuat :
    • Cuci bersih ceker ayam, bisa dengan perasan jeruk nipis atau air garam
    • Haluskan 4 siung bawang putih dan merica, iris daun bawang dan seledri
    • rebus air sampai mendidih, lalu celupkan ceker terlebih dahulu bersama bumbu
    • Selang lima menit, masukkan wortel, jagung, dan kentang
    • setelah semua empuk, jika ingin memasukkan sayur tambahan bisa dicelupkan. Bisa buncis, kembang kol, sawi, atau tofu.
    • bubuhkan gula dan garam secukupnya serta tambahkan bawang merah goreng. Kalau punya kaldu jamur boleh banget ditambahkan biar umamy.
    • NYUUUMMM!!!
  4. Sajikan bisa dengan mie telur jika anak sedang bosan nasi. Slurp! Selamat makan hehe. Foto menyusul kapan-kapan. Ya gitulah sop ceker kenampakannya~

Continue reading “MP-ASI Hack – Sop Ceker”

cerita mama · jurnal kehamilan · motherhood

Jurnal Kehamilan (1) : Aku Hamil!

Sedari tadi kakiku pegal sekali. Rasa-rasanya aku juga tidak sedang terlalu lelah. Hm, Tapi memang sudah tanggalnya sih. Sepertinya aku sedang PMS (Pra Mestruation Syndrome), biasanya kalau mau menstruasi bawaannya pegal di kaki dan punggung. Lalu menjalar ke kram perut. Baiklah…sebentar lagi tamuku datang!

Meskipun sebenarnya, aku sedang tidak menunggunya—tapi aku tidak mau terlalu memikirkan hal itu. Datang atau tidak, aku menerima semua kenyataan tersebut. Sesuai kata dokter tempo hari, agar program hamil berjalan lancar, aku tidak boleh terlalu stress. Dan kali ini aku mencoba membawa santai semuanya. Lemesin aja~

jurnal kehamilan 1

Dalam pengamatanku, PMS kali ini berlangsung lebih lama dari biasanya. Yang biasanya itu terjadi hanya dua hari sebelum menstruasi, tapi kali ini setelah dipikir-pikir, sudah seminggu aku merasa badanku tidak enak dan pegal-pegal, plus perut bagian bawah yang agak sakit, persis seperti disminorhea. Tapi kenapa tamuku belum juga datang? Nggak boleh GR, nggak boleh GR… kataku dalam hati menenangkan diri sendiri. Berusaha menurunkan segala ekspektasi tentang kehamilan yang sudah berkali-kali kutunggu.

Aku tidak mau terlampau cemas dan overthinking lagi setelah melihat hasil di testpack ternyata satu strip dan menerima kenyataan bahwa aku belum hamil. Jadi, meski bulan ini agak aneh, aku tetap tidak mau terlalu GR. Iya, ini cuma PMS kaya biasanya.

“Coba kamu testpack deh..” kata suamiku.

Nggak ah, nanti garis satu lagi.”

“Coba dulu, kalau nggak positif, juga nggak papa.” Dia masih membujukku.

“Masih dua hari kok telatnya, paling juga besok dapet.” Continue reading “Jurnal Kehamilan (1) : Aku Hamil!”

cerita mama · motherhood

Serba-serbi Newborn (1)

Saya posting ini, barangkali bermanfaat buat ibu-ibu baru di luar sana. Ini saya rangkum dari pengalaman yang masih belum ada dua bulan. Tapi saya catat saja, siapa tau nanti butuh buat adik-adiknya Shabira.

  • Kuning pada Newborn

Shabira sempat kuning di seminggu-2 minggu pertama. Tanda-tanda yang paling mudah dikenali adalah matanya yang belum jernih. Terlebih karena dia lahir di musim hujan. Matahari suka malu-malu. Nggak usah panik, ini wajar. Maksimalkan jemur pagi di jam 7-8 dan gempur ASI. Kalau bilirubin di atas 18 biasanya dianjurkan untuk fototherapy supaya kuningnya cepat turun : bayi 24jam/lebih menginap di RS, dikirim ASI per3 jam sekali. Biasanya kalau sudah kuning banget bayinya agak lemes dan pipisnya kuning.

  • Cegukan

Cegukan adalah hal yang wajar. Bisa diposisikan seperti akan menyendawakan. Cuma biasanya ibunya ga tega lihatnya😅

  • Pola tidur

Biasanya bayi Newborn tidurnya masih belum terjadwal, ini yang kadang membuat orangtua baru begadang. Ayah ibunya bisa membiasakan tidur malam dengan mengenalkan konsep siang dan malam. Kami mematikan lampu (menggunakan lampu redup) saat malam hari dan meletakkan Shabira di dekat jendela pada pagi/siang hari sambil diberitahu bahwa ini sudah pagi. Saya juga biasa menyenandungkan Shabira dengan senandung yang berbeda di pagi dan malam hari. Biasanya, kami memaksimalkan waktu pagi-sore untuk bermain saat dia bangun. Dan kalau Shabira bangun tengah malam, kami berupaya untuk tidak mengajaknya bermain/mengobrol. Supaya dia tahu kalau malam waktunya istirahat. Pijat bayi dan sinar matahari juga membantunya tidur nyenyak.

  • Pijat Bayi

Pijat bayi yang dilakukan orangtua adalah bonding dan quality time dengan bayi. Mereka lebih senang jika yang memijat orangtuanya sendiri. Pijat bayi juga bisa membantu bayi lebih enak tidur dan mengurangi gas dalam tubuh. Saya biasa pijat ILU, menggerakkan kaki seperti gowes sepeda, dan mengikuti beberapa tutorial pijat bayi di youtube setiap habis mandi.

  • Pantat Sensitif

Saya dan mas sepakat untuk mengurangi pemakaian diapers. Alasan utamanya adalah berusaha mengenalkan Shabira mencintai lingkungan, yang tidak kalah penting adalah mengurangi ruam popok. Shabira nggak pakai diapers tapi pantatnya tetap iritasi. Ternyataaa buat bayi yang sering BAB, mereka lebih rentan terkena iritasi. Kurangi penggunaan tisu basah, ganti dengan kapas dan air hangat, serta pastikan pantat dalam keadaan kering setiap habis membersihkan pantat bayi. Bila iritasi dan ruam masih terjadi, konsul dengan DSA, ada beberapa salep/obat luar yang bisa membantu (tentu saya nggak bisa nyebutin disini😂😅). Oh ya, minyak kelapa/VCO juga bisa mengurangi iritasinya.

  • Muntah

Dikatakan muntah ketika lebih dari 10ml air keluar dan ada gerakan otot perut. Beda dengan gumoh. Biasanya gumoh hanya sedikit. Muntah ini wajar terjadi karena pencernaan bayi masih belajar (sederhananya begitu, kompleksnya..eumm ada penjelasan ilmiahnya sendiri haha). Jangan cemas. Bisa dikurangi lewat disendawakan tiap habis minum. Kalau belum berhasil menyendawakan, jangan diayun terlalu sering, cukup digendong tegak atau posisi kepala lebih tinggi. Posisi menyusui juga bisa mengurangi muntah; posisikan kepala lebih tinggi dari perut, tidak mendongak atau menunduk. Usahakan bayi tenang saat menyusu supaya tidak banyak udara yang masuk. Kalau muntah cukup banyak, beri jeda saat menyusui sekitar 30menit karena bila disusui dengan jarak yang dekat bisa memicu kembali muntahnya. Asal bayi tetap aktif, tidak demam, muntahan tidak menyembur jauh ke depan, muntahan tidak berwarna hijau atau ada darah, dan BB naik tidak masyalaahhh. Continue reading “Serba-serbi Newborn (1)”