Postpartum

Mungkin fase ini patut diabadikan dalam tulisan. Hehehe

Sebelumnya, saya sudah baca-baca soal babyblues dan PPD. Dan betapa dua hal itu teramat dekat pada tiap ibu yang habis melahirkan. Alhamdulillah saya hanya merasakan naik-turun mood yang seperti rollercoaster dan memerangi diri saya sendiri yang kaya monster. Nggak sampai babyblues atau PPD. Naudzubillah… semoga teman-teman disini juga nggak ada yang kena yaaa.

Mungkin kejadiannya akan berbeda kalau saya nggak banyak baca dan mendapat support yang begitu besar dari keluarga saya. Dan hal-hal semacam ini, nggak mungkin saya bagi ke teman-teman saya…karena saya pikir ini akan begitu remeh di mata mereka. Yang saya punya ya keluarga saya. Tapi keluarga juga ujungnya saya memilah-milah. Karena kadang ketidakcocokan pola asuh anak juga yang memicu babyblues. Ujungnya yang saya tumpahi berbagai resah gelisah ya suami saya. Yang saya seret dalam arus keruwetan diri ini ya suami saya. Alhamdulillah beliau begitu supportif.

Jadi kalau ada para suami yang membaca ini dan istrinya mau melahirkan, please…bersamai dia. Benar-benar membersamai dalam arti sesungguhnya. Bukan ada tapi hadirnya tiada. Terutama mendengar cerita-ceritanya. Bagus kalau setiap hari memeluknya. Syukur-syukur rajin membelikan makanan kesukaannya. Hahaha. Karena meskipun itu remehhhh sekali di mata kalian, akan sangat berarti untuk istri kalian.

Saya nggak menyangka kalau mood saya bisa se-nge-swing itu. Sehari saya bisa begitu senang sekaligus begitu sedih. Saya bisa merasa begitu dicintai sekaligus begitu tidak dimengerti. Saua bisa merasa begitu beruntung sekaligus begitu merana.

Kadang luka jahitan, kelelahan, dan jam tidur yang masih adaptasi membuat semuanya mendukung mood yang acak-acakan.

Belum bisaa sholat juga. Kadang yang aku pengen cuma sholat abis gitu curhat sama Allah sambil nangis sampai ketiduran di sajadah. Tapi nggak mungkin…ada anak bayi yang dunianya adalah aku, ibunya. Nggak mungkin ditinggal-tinggal.

Pada saat itu, yang begitu memicu kesedihan dari diri saya adalah diri saya sendiri. Ketakutan-ketakutan yang saya punya. Setiap ibu bakal punya medan juangnya sendiri karena cerita pemicunya akan berbeda satu sama lain. Kadang bisa jadi karena mertua atau orangtua yang terlalu memojokkan ibu baru, ada juga karena stigma masyarakat sekitar, ada juga karena suami, ekonomi, ASI seret, anak nangis terus nggak berhenti, rumah berantakan, dan lain-lain.

mau garis satu, atau garis dua, kehamilan itu...sepenuhnya kuasa Allah

Read More

Advertisements

Program Hamil

Sebelumnya nggak pernah bahas ini karena aku merasa perjuanganku sebenarnya belum ada apa-apanya dibanding teman-teman yang sedang berjuang di luar sana. Doa terbaik untuk teman-teman yang sedang berikhtiar. Semoga Allah berikan kelapangan hati dan penerimaan yang luas akan segala skenarioNya 🙂

Mulai dari mana ya? Mungkin dari aku yang sempat kosong ‘belum isi’ selama enam bulan pertama menikah…

Awalnya sih santai, yang bikin nggak santai justru keluarga, kerabat, teman-teman, dan pertanyaan yang silih berganti datang. Aku sampai ngebayangin pas itu, gimana rasanya nanti lebaran. Berasa nggak pengen kemana-mana takut ditanyain udah isi apa belom waktu keluar-keluar. Separno itu 😦

Sekali lagi, kadang hati kita cukup lapang. Yang mempersempit adalah celoteh orang-orang di sekitar. huhuhu

Akhir 2016 aku memutuskan ke dokter kandungan, bukan karena pengen promil, tapi lebih ke drama ketika datang bulan mulai ada lagi. Disminorhea hebat yang sampai bikin keringat dingin dan pingsan. Yang beneran pingsan…padahal itu aku lagi diajakin pacaran ke Lembang sama suami. Pas di spot bagusnya, baru juga duduk, belum pesen menu apa-apa. Eh pingsan duluan wkwk. Kata suami, kami kesana cuma numpang minum teh anget 😂

Lalu waktu aku ke salah satu dokter kandungan, pyarrr, pecahlah pikiranku kemana-mana haha. Karena pada waktu itu, aku kembali divonis endometriosis. heu. Sebelumnya sudah pernah dibilang demikian, tapi cari alternatif dokter lain dan beliau bilang nggak ada masalah.

Aku diminta untuk terapi hormon selama tiga bulan. Resikonya, aku bisa aja sebulan itu nggak datang bulan sama sekali (tambah bingung kan ngitung masa suburnya). Terus harga obatnya Rp 500.000, dikali 3 sudah Rp 1.500.000. Wow. Baiklah, kami belum mengiyakan karena aku semakin ragu sama dokternya wkwk, habisnyaaa kaya gampang banget gitu ngevonis ini itu :””)

Kamipun cuma meminta copy resep. Lalu minggu berikutnya aku mencoba dokter kandungan yang lain, hasil dari rekomendasi teman yang merupakan dokter umum.

Ternyata beliau bilang sama sekali nggak ada apa-apa dengan rahimku. Semuanya alhamdulillah baik. Mungkin aku cuma kebawa beban pikiran aja.

“Stress aja ini kali mbak… biasa kan penganten baru agak-agak stress gimana gitu.” Kata beliau.

Dalam hati ingin ku bersorak, “TAU AJA SIH PAK DOKTER!” wkkwkwkwkwk

Mumpung di dokter kandungan ya kan, sekalian deh aku nanya kalau buat promil gimana. Read More

Catatan Benerin MP-ASI Shabira

Beberapa waktu lalu, saya pergi ke DSA. Mau curhat keresahan ini sama DSA-nya Shabira, dr Hastuti di PKU Kotagede. Shabira udah tiga bulanan BBnya stuck di angka 9,1an. Naik seiprit-iprit aja, paling pol 100gram. Adakah yang salah dalam pemberian MP-ASIku? sebenarnya BBnya masih di garis hijau, normal. Tapi yang jadi masalah adalah kenapa kok BBnya istiqomah? Padahal grafiknya harusnya naik. Nah lho…

Saya ditanyain macem-macem, Shabira juga diperiksa ini itu. Alhamdulillah semuanya normal. Ada benjolan di belakang telinga kanan dan kiri, dan itu normal karena nggak sampai 1cm diameternya. Cek HB alhamdulillah juga normal (tapi aku lupa berapa HBnya Shabira wkwk, fokusku cuma dokter bilang normal, ga kenapa-kenapa). Tinggal cek urin aja sebenernya, buat memastikan ada Infeksi Saluran Kencing (ISK) atau enggak. Karena kan susah juga mipisin anak di Rumah Sakit, hahaha.

Semua baik.

“Oke bu, kita evaluasi bareng-bareng ya..” Kata dr. Hastuti.

DUUUHHH Deg-degan rasanya pas dibilang gitu. Alhamdulillaaah dr. Hastuti nggak ngejudge apa-apa, nggak nyalahin Mama belajaran ini, nggak ngasi resep aneh-aneh. Terharuuuwww.

Sebenarnya ya, kita tuh kadang ngerti teorinya gimana, soal pemberian makanan adekuat, takaran penyajian, kapan dan durasinya. Tapi masih aja banyak excuse, tapi yaa namanya juga aji nur afifah, alesane luweh ombo timbange alas. wkwkwk

Lalu dr. Hastuti memulai pertanyaan ini dengan berapa kali Shabira makan? Oke sudah bener 3x.

“Selingannya apa?”

“Buah dok, kadang juga biskuit bayi, kadang nyemilin nasi.” jawabku kemudian.

Daaaan beliau mengernyit saudarah-saudarahhhhh. Hati ini makin berdebarrr. Tapi pertanyaan tetap dilanjutkan.

“Kalau minum ASInya bun?” tanya beliau.

Ennnggg…saya mulai berhitung dalam hati, “Enam dok!”

Raut muka dr. Hastuti berubah. UWAAA! Makin deg-deg serrr.

“Takaran makannya segimana Bun? Semangkuk kecil habis nggak?” Tanya beliau.

“Nah itu dok. Dia makannya sedikit. Kadang cuma 5 suap. Apa sebaiknya saya turun tekstur ya dok? Karena dia sudah makan nasi, bukan bubur atau nasi tim.” Mulai kederrrr. Panik! Hahaha

“Hmm, seharusnya semangkuk kecil sih bun sekali makan. Tapi nggak papa, kita coba telusuri ya kira-kira apa penyebabnya adek makannya nggak habis semangkuk kecil.” kata dr. Hastuti menenangkan.

oke…kembali lagi ke kursi panas wkwkwk

“Bunda, adek ASInya masih banyak ya kalau saya lihat-lihat. Padahal kebutuhan ASInya sudah berkurang, bunda pernah pumping? Dapet berapa kira-kira? Atau perkasih ASI, bunda ada takarannya?” Tanya dr. Hastuti yang membuat diri ini auto geleng-geleng kepala.

“Waduh, enggak pernah dok. Selama ini saya direct terus. Kalau ditanya dia berapa cc minum ASI perhari, saya juga nggak bisa ngitungnya…” hiks.

“Kebutuhan ASI adek harusnya 300cc saja perhari bun, kalau sejauh ini minum ASInya gimana? Lama nggak? Minum ASI kalau bisa nggak lebih dari 30 menit. Karena lebih dari itu masuknya ngempeng, kalau ngempeng–yang banyak masuk itu angin. Kalau angin…adek kembung, perutnya nggak enak, nafsu makannya bisa jadi turun.” lanjut dr. Hastuti.

Beliau mencoret-coret sesuatu di kertas HVS.

Jadi ini PR pertama kita ya, kurangi ASInya. Kalau minta? Alihkan. Kalau sudah setahun yaa paling enggak 3-4 kali aja minum ASInya. Bunda ada 1 bulan untuk membiasakan adek nggak terlalu banyak nenennya. Karena itu tadi, di usia adek, kebutuhan ASInya hanya 30%.”

Aku manggut-manggut, “baik dok.”

“Sekarang kita bicara soal makannya adek. Kalau Bunda kasih adek MPASI, di piringnya ada apa saja?” Read More

MP-ASI Hack – Sop Ceker

berisi kumpulan resep makanan kesukaan Shabira 😀

yang pertama adalah Sop Ceker. Hahaha. Anakku suka ceker, mirip aku ya. Karena bapaknya mah denger kata ceker ayam udah geli duluan. Yeeee belum rasain gimana enaknya nyesepin tulang ceker. wkwkwk

Membuat ini, caranya cukup sederhana.

  1. Bahan : Ceker ayam 4 pcs, wortel 1pcs (kecil saja), tofu (opsional), kentang (opsional), jagung serut (opsional-tapi direkomendasikan! hehehe)
  2. Bumbu : Bawang putih, merica, seledri, daun bawang, bawang merah goreng
  3. Cara membuat :
    • Cuci bersih ceker ayam, bisa dengan perasan jeruk nipis atau air garam
    • Haluskan 4 siung bawang putih dan merica, iris daun bawang dan seledri
    • rebus air sampai mendidih, lalu celupkan ceker terlebih dahulu bersama bumbu
    • Selang lima menit, masukkan wortel, jagung, dan kentang
    • setelah semua empuk, jika ingin memasukkan sayur tambahan bisa dicelupkan. Bisa buncis, kembang kol, sawi, atau tofu.
    • bubuhkan gula dan garam secukupnya serta tambahkan bawang merah goreng. Kalau punya kaldu jamur boleh banget ditambahkan biar umamy.
    • NYUUUMMM!!!
  4. Sajikan bisa dengan mie telur jika anak sedang bosan nasi. Slurp! Selamat makan hehe. Foto menyusul kapan-kapan. Ya gitulah sop ceker kenampakannya~

Read More

Jurnal Kehamilan (1) : Aku Hamil!

Sedari tadi kakiku pegal sekali. Rasa-rasanya aku juga tidak sedang terlalu lelah. Hm, Tapi memang sudah tanggalnya sih. Sepertinya aku sedang PMS (Pra Mestruation Syndrome), biasanya kalau mau menstruasi bawaannya pegal di kaki dan punggung. Lalu menjalar ke kram perut. Baiklah…sebentar lagi tamuku datang!

Meskipun sebenarnya, aku sedang tidak menunggunya—tapi aku tidak mau terlalu memikirkan hal itu. Datang atau tidak, aku menerima semua kenyataan tersebut. Sesuai kata dokter tempo hari, agar program hamil berjalan lancar, aku tidak boleh terlalu stress. Dan kali ini aku mencoba membawa santai semuanya. Lemesin aja~

jurnal kehamilan 1

Dalam pengamatanku, PMS kali ini berlangsung lebih lama dari biasanya. Yang biasanya itu terjadi hanya dua hari sebelum menstruasi, tapi kali ini setelah dipikir-pikir, sudah seminggu aku merasa badanku tidak enak dan pegal-pegal, plus perut bagian bawah yang agak sakit, persis seperti disminorhea. Tapi kenapa tamuku belum juga datang? Nggak boleh GR, nggak boleh GR… kataku dalam hati menenangkan diri sendiri. Berusaha menurunkan segala ekspektasi tentang kehamilan yang sudah berkali-kali kutunggu.

Aku tidak mau terlampau cemas dan overthinking lagi setelah melihat hasil di testpack ternyata satu strip dan menerima kenyataan bahwa aku belum hamil. Jadi, meski bulan ini agak aneh, aku tetap tidak mau terlalu GR. Iya, ini cuma PMS kaya biasanya.

“Coba kamu testpack deh..” kata suamiku.

Nggak ah, nanti garis satu lagi.”

“Coba dulu, kalau nggak positif, juga nggak papa.” Dia masih membujukku.

“Masih dua hari kok telatnya, paling juga besok dapet.” Read More

Serba-serbi Newborn (1)

Saya posting ini, barangkali bermanfaat buat ibu-ibu baru di luar sana. Ini saya rangkum dari pengalaman yang masih belum ada dua bulan. Tapi saya catat saja, siapa tau nanti butuh buat adik-adiknya Shabira.

  • Kuning pada Newborn

Shabira sempat kuning di seminggu-2 minggu pertama. Tanda-tanda yang paling mudah dikenali adalah matanya yang belum jernih. Terlebih karena dia lahir di musim hujan. Matahari suka malu-malu. Nggak usah panik, ini wajar. Maksimalkan jemur pagi di jam 7-8 dan gempur ASI. Kalau bilirubin di atas 18 biasanya dianjurkan untuk fototherapy supaya kuningnya cepat turun : bayi 24jam/lebih menginap di RS, dikirim ASI per3 jam sekali. Biasanya kalau sudah kuning banget bayinya agak lemes dan pipisnya kuning.

  • Cegukan

Cegukan adalah hal yang wajar. Bisa diposisikan seperti akan menyendawakan. Cuma biasanya ibunya ga tega lihatnya😅

  • Pola tidur

Biasanya bayi Newborn tidurnya masih belum terjadwal, ini yang kadang membuat orangtua baru begadang. Ayah ibunya bisa membiasakan tidur malam dengan mengenalkan konsep siang dan malam. Kami mematikan lampu (menggunakan lampu redup) saat malam hari dan meletakkan Shabira di dekat jendela pada pagi/siang hari sambil diberitahu bahwa ini sudah pagi. Saya juga biasa menyenandungkan Shabira dengan senandung yang berbeda di pagi dan malam hari. Biasanya, kami memaksimalkan waktu pagi-sore untuk bermain saat dia bangun. Dan kalau Shabira bangun tengah malam, kami berupaya untuk tidak mengajaknya bermain/mengobrol. Supaya dia tahu kalau malam waktunya istirahat. Pijat bayi dan sinar matahari juga membantunya tidur nyenyak.

  • Pijat Bayi

Pijat bayi yang dilakukan orangtua adalah bonding dan quality time dengan bayi. Mereka lebih senang jika yang memijat orangtuanya sendiri. Pijat bayi juga bisa membantu bayi lebih enak tidur dan mengurangi gas dalam tubuh. Saya biasa pijat ILU, menggerakkan kaki seperti gowes sepeda, dan mengikuti beberapa tutorial pijat bayi di youtube setiap habis mandi.

  • Pantat Sensitif

Saya dan mas sepakat untuk mengurangi pemakaian diapers. Alasan utamanya adalah berusaha mengenalkan Shabira mencintai lingkungan, yang tidak kalah penting adalah mengurangi ruam popok. Shabira nggak pakai diapers tapi pantatnya tetap iritasi. Ternyataaa buat bayi yang sering BAB, mereka lebih rentan terkena iritasi. Kurangi penggunaan tisu basah, ganti dengan kapas dan air hangat, serta pastikan pantat dalam keadaan kering setiap habis membersihkan pantat bayi. Bila iritasi dan ruam masih terjadi, konsul dengan DSA, ada beberapa salep/obat luar yang bisa membantu (tentu saya nggak bisa nyebutin disini😂😅). Oh ya, minyak kelapa/VCO juga bisa mengurangi iritasinya.

  • Muntah

Dikatakan muntah ketika lebih dari 10ml air keluar dan ada gerakan otot perut. Beda dengan gumoh. Biasanya gumoh hanya sedikit. Muntah ini wajar terjadi karena pencernaan bayi masih belajar (sederhananya begitu, kompleksnya..eumm ada penjelasan ilmiahnya sendiri haha). Jangan cemas. Bisa dikurangi lewat disendawakan tiap habis minum. Kalau belum berhasil menyendawakan, jangan diayun terlalu sering, cukup digendong tegak atau posisi kepala lebih tinggi. Posisi menyusui juga bisa mengurangi muntah; posisikan kepala lebih tinggi dari perut, tidak mendongak atau menunduk. Usahakan bayi tenang saat menyusu supaya tidak banyak udara yang masuk. Kalau muntah cukup banyak, beri jeda saat menyusui sekitar 30menit karena bila disusui dengan jarak yang dekat bisa memicu kembali muntahnya. Asal bayi tetap aktif, tidak demam, muntahan tidak menyembur jauh ke depan, muntahan tidak berwarna hijau atau ada darah, dan BB naik tidak masyalaahhh. Read More

Review Gendongan Bayi

Karena banyak sekali DM yang masuk dan nanya tentang gendongan bayi, aku post disini yaaa biar mudah mencari dan bisa cerita agak panjangan hehehe

Jadi aku punya 4 gendongan bayi yang biasa aku pakai. Gendongan ini adalah gendongan-gendongan yang aku pakai di rentang usia 0-1tahun. Bisa jadi nanti akan ada postingan susulan tentang gendongan toddler wkwk. Mari kita fokuskan untuk gendongan bayi terlebih dahulu ya!

Tapi sebelum melangkah lebih jauh, mari kita sepakati bahwa ini adalah dalam rangka review personal. Tidak untuk kemudian dijadikan sebagai alat pemicu mompetition (war mamakmamak), okayyy?

Pasalnya sekarang kan standarisasi gendongan sudah ada yang terbarukan dan lebih aman, tapi aku ikut memahami bahwa di beberapa kasus ada ibu-ibu yang tidak bisa senyaman itu melakukan babywearing ke kiblat standar babywearing UK. Misal lingkungan sekitar masih kental dengan gendong jarik/gendong samping, sehingga kalau tetap maksa bisa terjadi peperangan dengan ibu/mertua, malah bikin kita eyel-eyelan, gontok-gontokan, banyak dosa. Yah yaah berkahnya ilang.

Kalau pada akhirnya menjadi tertekan perihal gendong-menggendong, Mama jadi stress sendiri…. 😦 Bukan itu ya goalsnyaaa. wkwkwk. Nggak papa, pelan-pelanlah kita berproses. Prinsipnya; Mama tak boleh henti belajar. Lakukan yang terbaik yang kita bisa.

Belajar sama-samalah kita, buat yang sudah mantap dengan ilmu babywearingnya, edukasi teman-temannya dengan santun dan lembut, ajak dan ajarin pelan-pelan. Dibenerin, bukan disalahin yaaaa. hehehe. Yang utama, disupport–biar lebih cesspleng saran yang masuk. Yaay! Mari kita sama-sama menggendong!

Monggo update terkait ilmu gendongan ini, di banyak web/situs/akun sosmed babywearing indonesia sudah banyak. Ku tak akan membahas masalah ini.

Oke dan inilah reviewnyah sobat budiman~

1. Gendongan Jarik

Tentu saja ini gendongan legendaris. Dari nenek buyut kita sepertinya juga pakai gendongan ini. Nah kalau ngikutin aturan main babywearing/cara menggendong yang berstandar internasional wkwk, gendongan jarik ini bisa dimodif sampai bisa jadi gendongan yang support M-Shape. Alias jadi simpul jangkar. Tapi aku mah belum bisa kala itu. Jadi ya gendong gaya jarik kaya ibu/nenek kita biasanya. Gendongan jarik ini gaperlu ukuran karena templatenya sama, all size, mau yang pake siapa aja ya tetep aja gendongan jarik begitu-begitu aja. Nggak repot adjust size penggendong, hihihi

Minusnya : seiring bertambahnya usia, untuk mobilitas yang lama, gendong samping akan terasa berat. Sedangkan kalau mau ngegendong yang M-shape, hayati terlalu malas. Mending beli yang instan *oops.

Dah pada tau kan ya gendongan jarik yang kaya gimana. Ya yang itu loooohhhh~

jarik.jpeg

2. Geos

Aku pakai Geos karena dikado sama sahabatku. Hehehe dan bermanfaat banget buat aku yang suka rempong nyimpul jarik secara manual. Ringkes! Terus bisa jadi selimut atau alas kalau pergi-pergi. Aku pakai geos mybabypouch.

Kelemahannya adalah: geos ini cuma berlaku model gendong samping doang, bisa M-shape tapi nanti kalau anak udah bisa duduk sendiri, jadi bisa dikangkangin kakinya di gendongan. Kelemahan kedua, gendongan ini ukurannya sesuai dengan berat badan penggendong. Jadi gendongan ini cuma bisa buat aku aja. Nggak bisa kalau dipinjem suami wkwkwk. Kekurangan yang ketiga, yaa problem yang sama dengan jarik yang gendong samping, kalau anak udah gedean dan mobilitas banyak, bikin kerasa pegel di pundak. Mau dilebarin kaya apa kainnya di pundak, bagiku gerak jadi terbatas karena nggak handsfree dan tetep kerasa berat hehehehe.

img-20180414-wa00126098035694387924179.jpg

yang kaya gini looo geos tu~ anak langsung slurp masuk. hehehe

3. Geos 2 in 1

Nah ini! Inovasi mutakhir terbarukan wkwkwk. Murah, bisa support M-shape–bisa juga gendong samping makanya namanya 2in1, terus dia ringkes! Kadang bisa jadi selimut kalau bepergian. Terus ini bisa dipake dari 0 bulan.

Kelemahannya adalah : kalau mobilitas lama, gendongan ini akan terasa berat di pinggul dan pundak heu. Sama kaya geos biasa, geos ini ada ukurannya sesuai BB penggendong. Aku dikasih kado mbak Pradiah. Tapi kalau mau beli, merknya geosbayi. Nah ni ada tutorial pakenya buat yang bingung. Emang perlu latihan beberapa kali wkwkwk

img-20180505-wa00224792942471804645130.jpg

ga keliatan yak wkwk. mon maap gada foto proper.

4. Soft Structtured Carrier (SSC) Nanababy Carrier

Setelah nggak kuat pake geos karena banyak tugas mendampingi suami di luar rumah, akhirnya memutuskan untuk beli SSC Nana. Ini merk SSC lokal yang menurutku ramah di kantong ya harganya. Banyak yang sudah mereview. Aku beli di Sanggar ASI. Sanggar ASI ini adalah akun sociopreneur, jadi keuntungan dari semua pembelian produknya masuk untuk penyuluhan dan program edukasi terkait laktasi dan MP-ASI. Aku dulu sebelum lahiran, konsul laktasi ke penyuluhnya. Diajari macem-macem. Pantengin aja akunnya, FYI ini cuma buat di Jogja aja. Tapi kalau Nana Baby Carrier sendiri storenya nggak cuma di Sanggar ASI. Kayanya hampir tiap provinsi ada deh.

Sejauh ini cukup nyaman pakai Nana. Meskipun menurut review beberapa teman menyarankan upgrade ke Zakkel. Kelebihannya, harga relatif bersahabat, kualitas cukup oke, beban tersebar di beberapa titik, gampang pasang-lepas sendiri. Kelemahannya kalau gendong kelamaan, kaki anak jadi ngecap (membekas) gendongannya gitu kasian daaan kalau SSC minimal usia anak 4 bulan yaaa. hehehe

img-20180908-wa00151063170588677655967.jpg

SSC Nana

Itu keempat gendongan yang aku pakai sehari-hari. Nanti kalau gendongannya bertambah, aku share lagi disini yaa! Sebenernya ada buanyakkkk polll macem gendongan sampai hayati tak hafal apa saja. Aku pilih yang ringkes-ringkes aja karena urusan mobilitas. Gendongan diciptakan kan juga untuk membantu mobilitas kita, dengan tetap dekat dengan anak, tapi juga bisa bergerak kesana-sini.

Menggendonglah dengan kasih sayang dan kebahagiaan. Jangan dengan tekanan apalagi memenuhi standar hidup orang lain. Just be the best version of you! Teteppp…update ilmu ya! 😉