Uncategorized

Sleep Training Shabira (2)

Terhitung tiga minggu sudah aku melakukan sleep training. Daaaan sudah ada berbagai halang rintang dari perjalanan kami. Tantangan pertama adalah, lolos seminggu sleep training, kami pergi ke rumah mertua. He he he. Alhamdulillah mulus, tapi dua minggu kemudian kami berlebaran

Aku berekspektasi sekaligus berdoa, di hari ke-7 sleep training Shabira sudah bisa tidur dengan mulusnya. Ya memang sudah bisa, tapi ternyata kalau pulang ke rumah eyangnya lain cerita. Dan aku nggak memrediksi gejolak hatiku saat itu. Apaan dah gini aja bergejolak. wkwkwkw. Tapi serius, jadi gemes-gemes gimanaaa gitu. Jadi merasakan gimana sih gejolaknya teman-teman yang tinggal bareng mertua. Ditambah lagi, metode sleep training ini kan termasuk metode yang baru di Indonesia, orang masih awam. Ya sama kaya gendong M-Shape, atau no bedong-bedong club wkwkwk. Kalau ke desa yaaaaaaa siap-siap menyalakan genderang perang. Lebay, ga sampai perang juga sih.

Singkat cerita, hari pertama disana, Shabira biasa deeeh mau tidur kan rewel karena ngantuk yang sebenarnya didiamkan aja dia sudah bisa tidur sendiri. Tapi kan eyangnya belum paham. Aku sudah bilang kalau dia bakal tidur sendiri, tapi eyangnya kasian, nggak tega. Suami sudah bilang supaya dibiarkan saja, tapi eyangnya bilang jangan. Endingnya, Shabira digendong sampai dia tidur. wkwkwk.

Sabaaar, sabaaar, Apika anak sabar.

Setelah eyang berhasil menidurkan Shabira di kasur aku beranikan bilang (sambil gemetar juga sebenernya bilangnya, ngredeg lah!), 

“Bu besok-besok jangan digendong lagi ya, nanti malah jadi kebiasaan. Soalnya saya belum tentu kuat gendong Shabira sampai ketiduran kalau di Jogja.” Ibu mengiyakan, walaupun juga tampak kesal. Wkwkwkwk. Gapapa ya bu, abis itu kita damai :’D

Ampun deh perkara beginian aja, batinku. Tapi bismillah, kalau besok ibu masih keukeuh mau gendong ya aku mencoba ikhlas. Ya namanya eyang ya, kangen cucu, gak tega juga, mau gimana. Kalaupun aku harus mengulang hal ini sepulang aku dari rumah mertua insyaAllah aku ikhlas.

Alhamdulillaah hari kedua, lancar. Shabira bisa tidur sendiri setelah dipijetin meskipun banyak sekali modusnya mau keluar kamar. Okesip. Nggak papa, good job Shabira! Hari ketiga, Shabira sakit, flu ketularan sepupunya. Dia bisa tidur sendiri tapi tengah malam sekitar jam2an rewel luar biasa. Mulai semuanya heboh, ibu mertua, bapak mertua, ikut bingung. Aku yang awalnya santai jadi ikutan bingung harus gimana ngelihat bapak ibu mertua bingung. Ditambah ibu mertua sampai urun tangan ngepuk-pukin dan gendong Shabira. Baik…aku kasih ASI aja daripada merembet panjang urusannya. Suami juga pas nggak di rumah.

Dan ternyata Shabira flu sampai empat harian. Jadi selama itu juga nen sebelum tidur :’) Alhamdulillah pas balik ke Jogja kami sounding lagi dan kembali berhasil menjalankan sleeptraining di minggu berikutnya. Lalu tibalah akhir ramadan. Ada apa dengan akhir ramadan? Pulkam! Haha. Deg-degan bangettt bakal keulang lagi. Tapi sekarang kami sudah atur strategi, strategi batin wkwk.

“Nggak papa ya Mas, kalau ngulang lagi dari awal…”

“Iya, nanti tak temenin.” kata suami menenangkan. Dan aku sama sekali nggak pernah meragukannya kalau dia sudah bilang mau ikut menemani, berarti benar-benar mau menemani berjuang.

Maka kami pulkam dengan bergandengan tangan hahaha, apapun yang terjadi nanti, hasilnya kami pasrah. Karena pada intinya kami nggak mau perkara sleep training malah jadi konflik. Jadi kalau udah berkali kali ortu diajak rembug ternyata hasilnya 0, ya berarti sudah sampai situ batas juangnya. Sudah harus diikhlaskan.

Endingnya? Dua minggu di kampung halaman, sleeptraining Shabira benar-benar bubar jalan. Alhamdulillaah berarti ini yang terbaik.

Kami pulang ke Jogja, dan mengulang kembali sleeptraining. Hasilnya? Benar-benar susaaahhhh rasanya. Dan kalau sebelum-sebelumnya aku tega, ini benar-benar nggak tega untuk mengulang kembali. Pas aku tega aja nangisnya udah heboh banget, kebayang nggak gimana ini pas aku nggak tega? :”)

Instingku sebagai seorang ibu bilang, jangan. Shabira bisa setengah jam hanya menangiiiis saja. Aku sudah mencoba sehari, dia tertidur karena menangis sampai sesenggukan dan nafasnya berat. Besoknya dia menangis dengan durasi yang lama dan tangis yang nggak berkurang sama sekali kekuatannya. Malah makin menjadi.

Akhirnya, dengan mengucap bismillah, aku berhenti. Aku memutuskan berhenti karena ya mungkin ini belum waktunya untuk mengulang kembali. Satu saat, aku yakin Shabira mau dan bisa mengulang lagi sleep training ini. Merasa gagal? Tentu saja! Gagal luar biasa rasanya… tapi ini sudah konsekuensi dari pilihan. Selama menjalani aku merasa ada yang salah kalau aku meneruskan dengan situasi dan kondisi yang terjadi pada kami. Dengan tidak konsistennya aku dan suami menerapkan ini, akan berat juga untuk Shabira jika terus dipaksakan.

Kita akan temukan kembali waktu yang tepat ya, Kak Sha! Eh terus bagaimana apakah Shabira suka terbangun lagi waktu malam? Yap. Tapi nggak sebanyak dulu. Paling cuma sekali. Malah beberapa kali nggak bangun sama sekali meski tetap nenen sebelum tidur. Kadang kalau bangun juga nggak langsung aku kasih nenen, cuma dipuk-puk aja sudah bisa tidur sendiri. Alhamdulillaaah.

Akhir kata, buat teman-teman yang sukses menjalankan ini. MaasyaAllah pertahankan terus dan jalani dengan niat melakukan ini untuk kebaikan anak. Pun kepada yang gagal kaya saya, niatkan juga bahwa menggagalkan ini karena kita melihat dan menjalani, bahwa mungkin saat ini yang terbaik untuk dia, untuk kebaikan dia, adalah tidak menjalankan sleep trainingnya.

Semangat berjuang ibu-ibu!

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s