cerita mama · motherhood

Postpartum

Mungkin fase ini patut diabadikan dalam tulisan. Hehehe

Sebelumnya, saya sudah baca-baca soal babyblues dan PPD. Dan betapa dua hal itu teramat dekat pada tiap ibu yang habis melahirkan. Alhamdulillah saya hanya merasakan naik-turun mood yang seperti rollercoaster dan memerangi diri saya sendiri yang kaya monster. Nggak sampai babyblues atau PPD. Naudzubillah… semoga teman-teman disini juga nggak ada yang kena yaaa.

Mungkin kejadiannya akan berbeda kalau saya nggak banyak baca dan mendapat support yang begitu besar dari keluarga saya. Dan hal-hal semacam ini, nggak mungkin saya bagi ke teman-teman saya…karena saya pikir ini akan begitu remeh di mata mereka. Yang saya punya ya keluarga saya. Tapi keluarga juga ujungnya saya memilah-milah. Karena kadang ketidakcocokan pola asuh anak juga yang memicu babyblues. Ujungnya yang saya tumpahi berbagai resah gelisah ya suami saya. Yang saya seret dalam arus keruwetan diri ini ya suami saya. Alhamdulillah beliau begitu supportif.

Jadi kalau ada para suami yang membaca ini dan istrinya mau melahirkan, please…bersamai dia. Benar-benar membersamai dalam arti sesungguhnya. Bukan ada tapi hadirnya tiada. Terutama mendengar cerita-ceritanya. Bagus kalau setiap hari memeluknya. Syukur-syukur rajin membelikan makanan kesukaannya. Hahaha. Karena meskipun itu remehhhh sekali di mata kalian, akan sangat berarti untuk istri kalian.

Saya nggak menyangka kalau mood saya bisa se-nge-swing itu. Sehari saya bisa begitu senang sekaligus begitu sedih. Saya bisa merasa begitu dicintai sekaligus begitu tidak dimengerti. Saua bisa merasa begitu beruntung sekaligus begitu merana.

Kadang luka jahitan, kelelahan, dan jam tidur yang masih adaptasi membuat semuanya mendukung mood yang acak-acakan.

Belum bisaa sholat juga. Kadang yang aku pengen cuma sholat abis gitu curhat sama Allah sambil nangis sampai ketiduran di sajadah. Tapi nggak mungkin…ada anak bayi yang dunianya adalah aku, ibunya. Nggak mungkin ditinggal-tinggal.

Pada saat itu, yang begitu memicu kesedihan dari diri saya adalah diri saya sendiri. Ketakutan-ketakutan yang saya punya. Setiap ibu bakal punya medan juangnya sendiri karena cerita pemicunya akan berbeda satu sama lain. Kadang bisa jadi karena mertua atau orangtua yang terlalu memojokkan ibu baru, ada juga karena stigma masyarakat sekitar, ada juga karena suami, ekonomi, ASI seret, anak nangis terus nggak berhenti, rumah berantakan, dan lain-lain.

mau garis satu, atau garis dua, kehamilan itu...sepenuhnya kuasa Allah

Apapun itu…

Penting buat kita belajar tentang syndrome pascamelahirkan. Libatkan pasangan juga untuk belajar bersama. At least buat dia paham kalau syndrome itu benar adanya, tapi bisa juga dicegah.

Akui dulu kalau memang mood sedang kacauuu, diri sedang kaya monsterrrr, lalu fokus ke healingnya. Mungkin akan jadi berbeda tiap orang.  Perkuat pertahanan diri dengan banyak bersyukur.

Semangat untuk para calon ibu, dan ibu baru yang rela membaca ini 😀

Untuk yang sahabatnya habis melahirkan: semangatttt terus support dan doakan mereka. hehehe.

Peluk jauh dari sini yaa, XOXO

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s