Jurnal Kehamilan (1) : Aku Hamil!

Sedari tadi kakiku pegal sekali. Rasa-rasanya aku juga tidak sedang terlalu lelah. Hm, Tapi memang sudah tanggalnya sih. Sepertinya aku sedang PMS (Pra Mestruation Syndrome), biasanya kalau mau menstruasi bawaannya pegal di kaki dan punggung. Lalu menjalar ke kram perut. Baiklah…sebentar lagi tamuku datang!

Meskipun sebenarnya, aku sedang tidak menunggunya—tapi aku tidak mau terlalu memikirkan hal itu. Datang atau tidak, aku menerima semua kenyataan tersebut. Sesuai kata dokter tempo hari, agar program hamil berjalan lancar, aku tidak boleh terlalu stress. Dan kali ini aku mencoba membawa santai semuanya. Lemesin aja~

jurnal kehamilan 1

Dalam pengamatanku, PMS kali ini berlangsung lebih lama dari biasanya. Yang biasanya itu terjadi hanya dua hari sebelum menstruasi, tapi kali ini setelah dipikir-pikir, sudah seminggu aku merasa badanku tidak enak dan pegal-pegal, plus perut bagian bawah yang agak sakit, persis seperti disminorhea. Tapi kenapa tamuku belum juga datang? Nggak boleh GR, nggak boleh GR… kataku dalam hati menenangkan diri sendiri. Berusaha menurunkan segala ekspektasi tentang kehamilan yang sudah berkali-kali kutunggu.

Aku tidak mau terlampau cemas dan overthinking lagi setelah melihat hasil di testpack ternyata satu strip dan menerima kenyataan bahwa aku belum hamil. Jadi, meski bulan ini agak aneh, aku tetap tidak mau terlalu GR. Iya, ini cuma PMS kaya biasanya.

“Coba kamu testpack deh..” kata suamiku.

Nggak ah, nanti garis satu lagi.”

“Coba dulu, kalau nggak positif, juga nggak papa.” Dia masih membujukku.

“Masih dua hari kok telatnya, paling juga besok dapet.”

Tapi keesokan harinya, tamu itu belum juga datang. Ibuku lebih deg-degan, jadwal datang bulan kali ini bertepatan dengan kepulanganku ke rumah di Malang.

“Ini mbak, coba deh ditest-pack.” Kata ibu pulang-pulang membawa dua bungkus alat tes. Sesuai janjiku pada diri sendiri, apapun hasilnya, aku tidak mau terlalu memikirkannya.

Esok harinya, pagi-pagi sekali sebelum subuh, sesuai anjuran di kemasan bahwa urin pagi hari sebelum makan dan minum adalah urin terbaik untuk mengecek kehamilan, aku memutuskan mencelupkan si mungil testpack ini ke dalam urin yang kutampung ke dalam wadah. Pelan-pelan naik, satu garis…

Satu garis lagi.

Aku mengibas-kibaskan testpackku. Mengerjap tak percaya.

SERIUS? Serius ini dua garis?! Masih belum percaya, aku menunggunya lebih dari dua menit, dan masih tetap garis dua! Alhamdulillaaaah..

Aku membangunkan suamiku untuk shalat tahajjud.

Dan selepas itu, “Mas, mas, coba deh lihat…” Aku menyodorkan testpack itu kepada suami.

“Hamil?” Tanyanya tidak percaya. Aku hanya mengangguk.

“Serius?” Tanyanya lagi.

“Iya!” Kataku sembari tersenyum haru. Tiba-tiba aku sudah ada di dalam pelukannya, erat. Erat sekali.

“Alhamdulillaaaaah..” Dia masih memelukku.

Aku memejamkan mata sejenak, menikmati kehangatan yang menjalar di seluruh tubuhku.

“Berarti setelah ini, jangan capek-capek.” Katanya kemudian. Lalu pikiranku terbang pada seluruh agenda dan pekerjaan yang sedang padat merayap.

“Nggak papa kok Mas, katanya bayi itu nurutin ibunya. InsyaAllah kuat.” –bersambung

Advertisements

2 comments

  1. Zaleha R · December 24

    Barokallahu fiikum… Selamat ya atas kehamilannya ❤

    Like

  2. Asprilla Aqmarina · December 25

    ditunggu mbak jurnal kehamilan (2)-nya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s