Upload Foto

Tiap kali mau upload foto di Instagram, aku sampai bingung gitu mau upload yang mana. Karena…sejak menikah aku kaya nggak punya foto bagus hahaha

Hmmm dasarnya aku dulu sukaaa banget foto-foto. Suka banget difoto. Bahkan pada zaman ABG labil, aku sering ngebayangin kalau nikah bakal ada yang jadi fotografer pribadi. Taunya….

Tiap kali minta fotoin.

“Udah”

“HAH? UDAH APANYA?” kataku terkesima, gak ada tiga detik cuyyy sejak aku memasrahkan HPku kepada beliau untuk jepretin akuuu . Belum juga gaya, ya kan. Udah closing statement aja 😅

Sekalinya tampak niat motoin, adaaaa aja lah ulah pak suami ini. Yang blur lah, yang goyang, fokusnya kemana, kerudung miring nggak dibilangin, pokoknya ada aja kebocoran yang menjadikanku nggak jadi upload ke sosmed gegara fotoku nggak lulus QC.

Phew~

Jadi ya gimana mau upload di instagram, orang nggak ada fotonya😂 begitu pula kalau aku lagi rewel minta fotoin pas kita jalan-jalan. MUMPUNG ADA SPOT BAGUS NAN INSTAGRAMABLE NIH! Lalu nyolek-nyolek sambil kode buat motoin.

“Momen itu dinikmati…” sambil tatapan tajam ke aku yang lagi ngelobi.

Ya kan ini aku menikmati. Menikmati momen foto-foto maksudnya🤣 Ah ya sudahlah…

Dan sampailah aku ke sebuah pertanyaan buatnya tempo hari,

“Mas kenapa sih aku nggak pernah difoto-foto gitu? Kan aku pengen kaya orang-orang difotoin. Pengen upload fotoku sendiri sekali-kali.”

“Ya kan aku menjaga kamu dek…”

Langsung deh. Ceppp. Diem, manceppp. Nggak jadi komplain. Oke Ay, kamu kaya mawar emang ya. Penjagaanmu menyakitkan. Tapi aku suka😂😂😂

“Tapi sesekali boleh ya, fotoin yang bagus gitu he he he” rayuku sambil nyengir.

“🙄”

Anaknya, masih aja nawar! Hehehehehehe

He he he

He he

He

Btw, terimakasih sudah menjagaku! 😉

Advertisements

Patah Hati

Ada yang terlahir kembali dari sebuah patah hati. Ada kekuatan yang membuat kita bangkit lagi setelah terperosok seolah tak bisa bangun dan berdiri. Patah hati bisa menjadi sebuah titik balik.

Maka bersyukurlah, jika Tuhan sedang patahkan hatimu. Penciptamu tentu tidak akan menyakitimu, Dia hanya ingin kamu jauh lebih kuat dan jauh lebih baik daripada saat ini.

Hingga nanti, cinta yang baru, dapat memelukmu lebih indah, murni tanpa setitik bekas, dari yang dulu pernah ada, kamu jaga sepenuh jiwa tapi malah pergi begitu saja.

Tuhan hanya ingin bilang, ada sosok yang cintanya lebih besar dari makhluk. Dia patahkan hatimu agar kamu percaya, hanya satu yang tak pernah membuatmu kecewa.

Ada Tuhan

Hidup emang nggak selamanya seperti yang kita mau. Kadang ada masanya kita kecewa sekali. Sampai nggak tau lagi mau marah ke siapa. Marah ke Tuhan? Kok kurang ajar. Akhirnya kita cuma ngadu dan ngadu. Nangis sejadinya. Nggak berkata-kata, cuma nangis aja.

Tapi diam-diam kita berdoa. Memohon agar semuanya lekas usai. Memohon agar kuat menghadapi ini semua. Memohon banyakkkk sekali, tapi intinya agar rasa kecewa ini diangkat, dicabut seakar-akarnya. Permohonan-permohonan itu kita teriakkan lantang saat senyap. Yang mengerti hanya kita dan Tuhan. Nggak perlu orang lain. Rasanya cukup Tuhan saja. Karena…kita tidak mau lagi kecewa dengan respon orang lain atas kita. Cukup…

Saat itu, sebenarnya yang kita perlu cuma didengarkan. Dan kembali, di saat semuanya nampak tak mau mendengar, lagi-lagi ada Tuhan yang tanpa dimintapun sudah mau mendengar.

Tuhan mungkin sedang ingin menunjukkan, kalau kita ini makhluk yang lemah. Yang tidak ada apa-apanya apalagi diberi masalah berat sedikit. Tuhan mungkin sedang rindu, dijadikan nomer satu, dijadikan segala-galanya.

Tuhan mungkin benar-benar rindu. Selama ini kita terlalu jauh, selama ini kita takbenar-benar bicara dengan hati, selama ini kita terlampau asyik dengan urusan-urusan kita, bahkan kadang mengatasnamakanNya tapi nyatanya taksetulus karenaNya…

Dibalik kekecewaan kita ini, Tuhan ingin kita mendekat…Tuhan sedang bilang pelan-pelan pada kita :

“Ada Aku… ingat, ada Aku.”

Menjadi Ibu Baru

Hari ini, aku lihat anakku yang masih tidur. Betapa lucunya, sudah hampir setengah tahun aku membersamainya. Itu artinya, setengah tahun pula aku menjadi seorang ibu.

Ternyata perjuangan yang berat tidak selesai ketika melahirkan usai, justru baru dimulai. Petualangan menjadi ibu tidak akan berujung.

Setelah melahirkan bergelut dengan perjuangan mengASIhi, lalu penyembuhan fisik pascabersalin, belum juga semua itu berakhir muncullah drama hormon yang tidak stabil. Mulai uring-uringan sampai nangis bombay. Bahkan aku nyaris hilang kontrol untuk mengatur diriku sendiri. MaasyaAllah.

Setelah menjadi ibu, aku baru sadar…sedekat itu seorang ibu baru dengan syndrome pascabersalin. Setelah mengalaminya sendiri, harus kuakui, baby blues itu nyata adanya. Itulah gunanya mempelajarinya sebelum melahirkan. At least meski berat, kita terbantu dengan keterbukaan menerima kondisi depresi dan berusaha berjuang melawannya. Tanpa dukungan yang penuh dari keluarga dan suami, sepertinya babyblues bisa mampir pada siapa-siapa yang dia mau.

Tidak sampai disitu, ibu baru kembali harus beradaptasi cepat dengan cara merespon perbedaan pola asuh dari sekitarnya. Terkadang, jika pondasi pengasuhan tidak kuat, ibu baru begitu mudah kehilangan kepercayaan dirinya. Maka dari itu, wajib bagi seorang ibu paham mengapa memilih metode pengasuhan A/B/C. Apalagi di jaman now. Kita memang dimudahkan untuk mengakses segala informasi, tapi orang lain juga seakan menjadi semudah itu mengakses kehidupan kita haha! Kalau kita kuat, orang mau nyinyir gimana juga go ahead Ma!

Akan tetapi, lain cerita kalau perbedaan pola pengasuhan ini terjadi di keluarga besar. Misal mertua ataupun orangtua. Selama nggak krusial, lemesin aja Ma! Daripada panjang ceritanya…maka dari itu, ada baiknya ikut mengedukasi keluarga besar soal pola pengasuhan kita. Misal, mengajak nenek ke dokter/seminar. Biasanya sang nenek akan lebih mudah menerima omongan tenaga medis daripada kita. Hihihi

Nggak mudah siiihhhh, aku sendiri mengalaminya, sampai kadang kucing-kucingan, sengaja back street melakukan stimulasi/pengasuhan yang beda pendapat hahaha. Seru? Seru-seruin laaah. Kalau didramatisir sedih sendiri.

Makanya, tidak meletakkan ekspektasi terlalu tinggi dan tetap melemaskan ego adalah kunci kestabilan emosi menghadapi perbedaan pola asuh ini. Maklum aja…kita terpaut satu generasi. Pasti ada perbedaan.

Kenyataannya memang nggak mudah. Perlu latihan dan berperang melawan kekeukeuhan sendiri. Daripada debat ya…kata Rasul aja, hindari. Meski kita tau kita yang benar 🙂

Cuma kalau masalah ASI ekslusif dan hal krusial lainnya tetap takboleh diganggu gugat kalau aku 😀 kalau soal gendongan, obat, masih bisa lah. Hehehe. Bisa sembunyi-sembunyi maksudnya 😆😋

Ibu baruuu oh ibu baru. Pasti ada pertama kalinya atas segala sesuatu. Dan menjadi ibu…untuk pertama kali, pasti nggak mudah. Jadi, apresiasilah dirimu Ma! Lihat lagi anakmu, betapa lucunya. Betapa cintanya kita…

Kesalahan-kesalahan adalah teman kita sehari-hari. Tidak ada sosok ibu yang sempurna. Lagipula anak-anak kita tidak membutuhkan hal itu. Mereka hanya membutuhkan kita. Kita yang menjadi dunianya. Kita yang tetap ceria menemaninya bermain, kita yang terus belajar berbenah, kita yang kadang panik kadang marah, mereka butuh kita, ibunya.

Ibunya yang rela melakukan apa saja, rela begitu tak memikirkan diri sendiri, rela mengikhlaskan jam tidur, rumah berantakan, kocek untuk membeli ini itu–meski kadang kita juga banyak maunya, pengen ABC tapi lagi-lagi untuk anak kita jatuhkan pilihan, dan banyak lagi.

Terimakasih Ma, terimakasih untuk semua pengorbanan itu. Untuk tetap memberikan segala yang terbaik untuk anak-anak kita. Untuk selalu ada dan nyaris mengadakan segalanya untuk dia. Terimakasih Ma, terimakasih untuk menjadi dunianya.

Mungkin anak-anak kita kelak tidak akan ingat detail kita membesarkannya. Mungkin anak-anak kita kelak tidak bisa membalasnya. Tapi…bukan itu yang kita cari. Melihatnya tumbuh sehat, baik, cerdas, telah membayar semuanya❤

Biar Allah yang mencatat dan menjadi saksi. Cukup Ia. Yang Maha Adil.

Anak-anak yang baik, baktinya takperlu kita pinta. Mereka dengan cuma-cuma kelak memberikannya.

Semoga kita dimampukan membesarkan mereka menjadi anak shalih, anak baik, dan anak yang berpegang teguh dengan nilai-nilai Islam.

Enjoy motherhood. Meski perih, meski letih, tapi berharganya tak akan terulang. Satu saat kita akan merindukan masa-masa ini, masa-masa menjadi ibu baru 🙂

Problematika Makanan Buka (1)

Apik : Mas gimana kalau hari ini buka puasanya masak rawon? Kita punya tempe banyak nih. Enak buat dimaem sama rawon.

Mas : oh lha dagingnya ada?

Apik : ya nggak ada, nanti beli daging

Mas : harusnya orang masak rawon itu karena punya daging baru beli tempe. Bukan punya tempe baru beli daging.

Apik : nggggg iya juga yak 🤣🤣🤣

Cerpen : Doa Untuk Syahdu

Kalau ada doa yang paling jahat, pastilah Fakhri pemenangnya saat ini. Ada doa yang diam-diam dipanjatkan. Doa untuk teman kecil sekaligus sahabatnya, Syahdu.

Entahlah, insting sok tahu dan sok care Fakhri bicara, kalau Azka, laki-laki yang berkali-kali diceritakan Syahdu itu, tidak cocok sama sekali dengan sahabatnya. Ya meskipun semua kriteria lelaki ideal zaman now sudah ada pada Azka. Tetap saja menurutnya, Azka sama sekali tidak nyambung kalau disandingkan dengan Syahdu. Titik.

Lalu siapa yang lebih cocok dengan Syahdu? Ya dirinya sendiri.

Pret. Bilang saja, Fakhri tak rela Syahdu dengan orang lain. Dan Fakhri masih lebih tak rela menerima kenyataan bahwa dia kalah langkah. Andai ia dengarkan nasihat Mamahnya tempo hari.

“Mamah kan sudah bilang, kalau suka itu ya suka aja. Mau sama sahabat kek, sama temen sekelas, tetangga sebelah, asal enggak sama laki-laki dan sodara sendiri kan nggak papa Ri. Namanya juga suka. Ngaku aja.”

“Mamah apaan sih.”

“Kamu itu, kaya Mamah baru ngelairin kamu kemarin aja. 24 tahun Ri umur kamu, 24 tahun Mamah tahu kamu! Sok sok an. Sikap sok kamu itu lho dikurang-kurangi!”

“Sok apaaaaa lagi-.-”

“Sok sok an nggak suka. Padahal mah suka banget!”

“Ih Mamah apaan sih.”

“Nah ini juga sok. Sok nggak ngaku.”

“Terserah Mamah aja lah.”

“Sekarang, sok kuat. Yang disuka udah dituju orang.”

Jleb.

“Mamah ih, suka bener.”

Perempuan yang dipanggil Mamah itu tertawa terbahak-bahak. Sebenarnya dia sedih juga melihat anaknya bertepuk sebelah tangan. Tapi, sikap kocak Fakhri di segala situasi membuatnya selalu menganggap bahwa Fakhri baik-baik saja.

Padahal tak begitu. Sudah dibilang, Fakhri pemenang doa paling jahat era ini.

“Ya Allah, semoga Syahdu segera menemukan ketidakmantapan dengan Azka. Aamiin.”

Cerpen : Dua Alasan Syahdu

Aku kenal Syahdu karena Ayahnya teman Ayahku. Mereka satu band waktu SMA. Bedanya, Ayah kini malah menjadi akademisi, sedang Ayah Syahdu masih menggeluti bidang seni sebagaimana dulu waktu beliau muda.

Syahdu hanya tinggal dengan Ayahnya. Ibunya sudah tiada sejak Syahdu kelas 2 SD. Sejak itu, karena kami satu kota dan juga satu sekolah, ibuku sering mengajak Syahdu keluar bersama, agar Syahdu tidak kesepian. Terlebih karena anak ibu keempat-empatnya laki-laki, Syahdu seolah-olah menjadi anak ibu yang perempuan.

Ayah Syahdu tidak menikah lagi. Entahlah, meski Syahdu ikhlas-ikhlas saja ayahnya menikah lagi, tapi Ayah Syahdu bersikeras untuk tetap menjadi duda hingga saat ini.

Sifat keukeuhnya itu ia turunkan pada anaknya. Syahdu seperti ayahnya, suka keras pada diri sendiri. ***

“Mah, mau kemana? Rapi amat.” Kataku pada Mamah yang tiba-tiba saja keluar dari kamar sambil menenteng tas.

“Mau pergi sekalian jemput Dek Abim selesai futsal.”

“Kan Dek Abim masih nanti pulangnya.”

“Iya Mamah sekalian ke toko kue.”

“Ke toko kue melulu perasaan.”

“Nemenin Syahdu.”

“Oooh…”

Pasti Syahdu bereksperimen lagi. Mungkin ini eksperimennya yang ke dua puluh sekian. Kalau aku jadi dia, aku sudah frustasi.

“Thomas Alfa Edison aja gagal berkali-kali! Gapapa tuh. Dia nggak mati bunuh diri.” kata Syahdu.

“Baiklah….”

Dan ketika semua orang setelah lulus ribut mencari kerja, atau bersiap S-2, atau membuka usaha, Syahdu masih tetap serius: membuat kue.

Dengan resep dan jenis yang hampir sama. Dia bergelut dengan kegagalan dan keberhasilan yang semakin terlihat tipis. Tapi semakin hari aku melihat dia bukannya semakin melemah malah bertambah kuat. Syahdu masih sekeras itu pada dirinya sendiri

“Lihat ya Ri! Aku pasti bakal berhasil! Meski satu-persatu hilang rasa percayanya padaku. Setidaknya aku tidak mau kehilangan itu untuk diriku sendiri.”

Aku hanya terpaku. Sambil terus mendoakan keberhasilannya. ***

Sepulang dari menjemput Dek Abim, Mamah dengan antusias menghampiriku. Raut muka Mamah bahagia sekali. Raut-raut melihat rapot anaknya bagus. Hahaha

“Kenapa Mah?”

“Ni lihat Mamah bawa apa!”

“Kue?”

Mamah mengangguk.

“Cicipi deh. Enak buangetttt!” Seru Mamah sambil duduk di sebelahku.

“Kue apa sih?”

“Apa ya…kaya bolu gitu. Eh bukan. Nggak ngerti deh Mamah juga gapaham ini kue apa.”

“Lah kenapa dibeli?”

“Ini Mamah nggak beli, Syahdu yang bikin.”

“Oya?” Aku buru-buru mencoba kuenya.

Dan memang…rasanya tidak bisa kudeskripsikan saking enaknya! Apalagi, aku mengikuti perjuangan Syahdu selama ini membuat kue. Dari yang awalnya kemanisan, nggak ada rasanya, gosong, nggak mengembang, ah pokoknya segala macam rasa sudah pernah kucoba. Maka ini bukan cuma soal rasa enak. Tapi juga rasa bahagia. Rasa haru. Rasa kagum. Rasa…,

“Gimana gimana, enak kan?” Mamah menggoyangkan bahuku sambil menunggu tanggapanku.

“Iya Mah! Wih Syahdu berhasil! Mau kutelpon ah dia.”

“Kamu tau nggak kenapa dia keukeuh bikin kue ini?”

“Enggak…” tanpa kusadari aku juga tidak pernah bertanya alasan dibalik Syahdu yang segigih itu belajar membuat kue.

“Karena, ini resep turunan dari ibunya. Kata Syahdu, tiap hari ayahnya bermimpi memakan kembali kue-kue itu. Kata dia pula, kue adalah dunia kedua ibunya setelah keluarga. Jadi lewat kue ini dia berhasil mewujudkan keduanya: Mimpi ayahnya, dan dunia ibunya.”

Aku taktahu alasannya bakal sesyahdu namanya…

“Manis ya?” Kata Mamah.

“Mamah juga mau lho kak, punya mantu manis kaya Syahdu.”

“….”

Dhuar! Mamah…Kenapa bisa baca hatiku?